Selasa, 28 Oktober 2014

Cinta Sejati Tidak Jatuh dari Pohon

Aku tidak habis pikir. Pada cara kerja dewi cinta memutarbalikan duniaku. Bagaimana bisa ia dengan mudah melemparkan panah asmaraku pada pria-pria itu? Semudah itukah aku jatuh cinta?

Perkenalkan, namaku Nessa. Aku tidak cantik. Tidak juga lemah gemulai seperti kebanyakan wanita idaman pria. Aku sedikit tomboi, kurasa. Jalanku tidak anggun. Makanku banyak, hampir sama dengan porsi makan Genta, sahabatku yang tambun itu. Tapi aku tidak pernah menutupinya, bahkan di hadapan teman-teman lelakiku. Mungkin itu alasan mereka menghapusku dalam daftar cewek idaman mereka, hahaha.

Lebih payah lagi jika kita berbicara soal percintaanku. Jangan bilang siapa-siapa ya, ini rahasia. Aku. Hmm, aku..., aku belum pernah punya pacar. Sungguh, sejak aku tau dari sinetron seperti apa itu pacaran, aku belum pernah merasakannya langsung.
Apa? Kalian tidak terkejut? Sudah kuduga. Mungkin karena kalian telah membayangkan bagaimana rupaku yang tidak ada pantas-pantasnya dijadikan kekasih ini, ya? Haha, terima kasih, kawan. Jujur itu memang terkadang menyakitkan.

Dan akan lebih menyedihkan lagi, jika kalian tau betapa tidak tahu dirinya aku ini.
Aku yang seharusnya bercermin sebelum jatuh cinta ini, justru dianugerahi bakat luar biasa oleh Tuhan, mudah jatuh cinta.
Semudah apa? Selincah tupai melompat dari satu ranting ke ranting lainnya, kurasa.

Seperti ini misalnya..
Minggu lalu, aku berhasil menghubungi salah satu gebetanku semasa SMA dulu. Tanpa sengaja, kami berkontakan di media sosial. Tak banyak percakapan. Tak begitu penting obrolan. Tapi mampu membuatku melayang ke langit, dan enggan jatuh ke bumi jika bukan di pelukannya. Aih, dangdut sekali, bukan?
Tapi, sudah senorak itu diriku, tetap bukan jaminan kalau dia akan jadi ranting terakhirku untuk bersinggah. Kemarin, aku menghabiskan waktuku bersama seorang teman jauh. Dulu kami sempat dekat karena sebuah kebetulan. Dulu kami memang seperti sedang menjajaki masa pendekatan. Tapi pendekatan tinggallah pendekatan. Hanya sampai pada tahap 'hampir jadian' dan kami hilang kontak. Kawan, inilah alasanku begitu menyukai lagu Almost Is Never Enough milik mbak grande yang mungil itu, Ariana Grande. Dia benar sekali, tentang bagaimana yang namanya hampir itu tidaklah pernah bisa cukup.
Dan karena kebetulan kedua yang terjadi kemarin, akhirnya aku berkesempatan untuk memiliki waktu bersama pria itu lagi. Entah karena hatiku memang sedang kosong, atau aku saja yang gila karena seminggu sebelumnya aku benar-benar menginginkan pria lain. Aku pun merasa jatuh cinta, untuk kedua kalinya pada pria ini.
Belum lagi perasaanku yang mudah memerah jambu, kala ada pria yang sedikit saja mencoba menarik perhatianku, atau setidaknya tidak sengaja menarik perhatianku. Lantas, bagaimana denga pria-pria sebelumnya yang kubicarakan setiap hari, kubayangkan wajahnya setiap malam, kunantikan hadirnya setiap waktu itu? Apa aku memang benar-benar jatuh cinta? Memang seperti apa jatuh cinta itu sebenarnya?

Terkadang, aku sampai merasa malu untuk menceritakan ketertarikanku terhadap seorang pria kepada sahabatku. Salah-salah mengartikan, dua hari kemudian bisa saja kuceritakan kepada mereka tentang pria yang berbeda. Hingga mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihatku yang tidak juga jera melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.

Walau begitu, aku percaya satu hal.
Cinta sejati tidak mungkin dapat ditemukan sekedar jatuh dari pohon. Atau di tepi sungai. Atau di kolong meja. Tidak semudah itu.
Cinta pada pandangan pertama? Jangan bodoh. Apa yang kau lihat saat memandangnya pertama kali? Fisiknya, bukan? Maka itu hanyalah ketertarikanmu pada fisiknya. Bukan hatinya. Bukan jatuh cinta.
Jika sekarang aku dengan mudah melompat kesana kemari, dari satu pohon ke pohon lainnya, dari satu hati ke hati lainnya. Maka, biarkanlah untuk sementara ini aku menjadi tupai yang lincah. Cukup ingatkanku untuk selalu berhati-hati, agar tidak jatuh dan terluka.

Sampai kapan?
Sampai cinta sejati yang sesungguhnya itu datang. Pasti dengan cara yang berbeda dari yang sudah-sudah. Pasti dari arah yang tidak pernah kusangka-sangka. Pasti dengan rasa yang tidak pernah kubayangkan.
Setidaknya, begitulah cara kerja 'jodoh' yang tak akan bisa kuprediksi kapan datangnya.
Kau tahu, kawan? Aku sudah tidak sabar dibuat terkejut dengan bagaimana caranya datang. Ketika aku akan dibuat mengalah. Berhenti melompat dari ranting ke ranting. Memilih satu saja batang pohon untuk kubangun sarang dan tempat tinggal selamanya. Aku penasaran, akan seperti apa rasanya?

Sabtu, 20 September 2014

Bagaimana Bisa?

Bagaimana bisa aku tak terbuai pada riang sapaanmu?
Bagaimana bisa aku tak tergoda pada manis senyummu?
Bagaimana bisa aku tak terhasut pada teduh tatapanmu?
Bagaimana bisa aku tak mencinta karena rayuanmu?
Bagaimana bisa aku tak merindu dengan renyah canda kita?
Bagaimana bisa aku tak mengagumi caramu mengucapkan 'dear' padaku?
Bagaimana bisa aku melupakan caramu tertawa pada candaanku yang gagal?
Bagaimana bisa aku melupakan caramu menarik urat wajahmu untuk menciptakan senyum di setiap pagiku?
Bagaimana bisa aku tak berharap akan setiap sentuhanmu, di belaian rambutku, di jemari dan kuku, di hatiku yang terdalam?
Bagaimana bisa aku tak merayu pada kokohnya dadamu yang selalu hangat untuk kupeluk?
Bagaimana bisa aku tak merona mengingat rajukanmu karena aku tidak pernah memberi tanda love pada akun sosial mediamu, manjamu yang seperti anak kecil itu?
Bagaimana bisa aku melupakan hal-hal pada dirimu, dari yang paling tersembunyi hingga yang paling dunia hafal?
Bagaimana bisa aku tak ingat janjimu untuk selalu bersamaku hingga lelah matahari bersinar?
Bagaimana bisa aku lupa janjimu untuk kita yang selamanya?

Lantas, bagaimana bisa kini kau meninggalkanku seorang diri? Bahkan tanpa kata cinta.
Bagaimana bisa?

Kamis, 04 September 2014

#FF2in1 : Penyembuh Luka

Aku tidak pernah mengerti, mengapa kau selalu ada di sampingku dan tidak pernah pergi. Bahkan ketika semua meninggalkanku. Saat itu. Aku tidak akan pernah lupa malam itu. Mereka mencemoohku dan menghinaku tanpa ampun. Mereka menyebutku tak pantas ada di sekolah elit ini. Mereka bilang aku menipu sekolah dengan beasiswa yang ayahku rancang sendiri. Lihatlah, mereka bahkan menghina ayahku? Tega. Bagaimana aku bisa lupa malam paling mengerikan dalam hidupku itu? Langitku runtuh saat itu. Tak terperi. Tak terbendung. Hatiku hancur. Luluh lantak. Aku kecewa. Benar-benar kecewa. Pada dunia. Pada rencana yang sedang Tuhan mainkan untukku. Mengapa tega sekali?Aku bahkan sempat tak ingin mempercayai orang lagi.
Tapi, kau hadir. Dengan saputangan warna biru langit. Yang kau sodorkan ketika kusedang merutuki malam itu. Di bawah sinar kuning lampu jalanan. Di sebuah trotoar pinggir jalan yang tidak terlalu ramai.
Kau mengagetkanku. Aku bahkan tak menyangka kau tahu namaku.
"Jangan terlalu diambil hati, Dewi. mereka bahkan gak kenal siapa kamu kan?"
Aku hanya bisa diam. Aku masih tidak bisa mempercayaimu kala itu.
Kau nampak dapat membaca gurat wajah tidak percayaku itu. Tapi seolah tak peduli, kau membuktikan kepedulianmu dengan mengangkat tanganku untuk kau bawa ke dalam mobilmu.
Sepanjang perjalanan kau mengantarku pulang, kau juga tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kau seperti ingin membiarkan diriku tenang.
Sampai pada hari-hari setelah malam itu. Kau tidak pernah pergi lagi dari sisiku. Kita berbicara semakin banyak. Kau bercerita semakin banyak. Kau mendengarkanku semakin banyak. Kita menghabiskan waktu semakin banyak.
"Kenapa kamu selalu ada disini buat aku, Di?" aku benar-benar penasaran dengan jawaban dari pertanyaan itu. Kamu seperti orang asing bagiku dulu. Tapi kini? Mungkin kau orang paling pertama yang akan menjagaku dan hatiku, dari siapapun yang ingin melukainya.
"Aku juga gak tau. Mungkin, Tuhan ingin aku jadi penyembuh lukamu.." aku selalu suka senyummu itu. Jujur.
"You did it well. Really."
Kau mendaratkan kecupan hangat di dahiku. Tetaplah disini. Jadi penyembuh lukaku.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

#FF2in1 : Pulang Ke Rumah

Adalah Sekar, sahabat terbaik yang pernah kami dekap. Iya, pernah. Kami sudah bersahabat sejak berseragam putih abu-abu, sampai kini kami bekerja untuk beberapa perusahaan berbeda. Tapi, sudah sejak beberapa bulan lalu ia tak ingin kami hubungi. Masalahnya sepele sebenarnya, ia benci pada janji yang kami buat sendiri. Setamatnya SMA dulu, kami berjanji untuk tetap menyempatkan waktu setidaknya satu hari per dua minggu untuk menghabiskan waktu bersama. Ide itu meluncur dari otak encer insinyur kesayangan kami, Lola. Aku, Rima dan Sekar pun setuju akan hal itu. Ide itu berjalan lancar dan baik-baik saja, sampai pada suatu pekan, Sekar tampak dibuat pusing oleh beberapa hal dalam hidupnya. Rima yang memang kekanak-kanakan dan cuek dalam hal berkata-kata, tanpa sengaja membuat Sekar geram. Entah setan mana yang sedang menghantui Sekar, ia begitu emosional, memaki-maki kami bertiga, mengatakan hal yang tak seharusnya terucap, bahkan memutuskan telepon tanpa sempat kami menjelaskan kesalahpahaman tersebut.
Sekarang, tinggallah kami bertiga, duduk di pojok kesayangan salah satu cafe favorit, tempat biasa kami memangkas rindu bercengkrama.
"Ngelamun aja, Non.." Lola menyadarkanku dari lamunan tentang Sekar.
"Eh hahaha iya nih..." aku memberi jeda. "Sekar, hmmm, dia masih marah sama kita ya?"
"Kangen, ya.." Rima menambahkan. Seketika suasana membiru. Kami sungguh kehilangan Sekar.
Selalu berempat, kemana pun, dimana pun, membicarakan hal apapun, berbagi keluh kesah, cerita, bahagia, sendu sedan, semuanya. Dan kini kami harus berjalan pincang tanpanya? Rumah tidak akan benar-benar menjadi rumah ketika salah satu penghuninya pergi, bukan?
Kami larut dalam rindu pada Sekar. Diiringi alunan piano sendu dari speaker di sudut cafe ini.
"Gue boleh gabung?"
Suara itu.
Kami menoleh pada sumber suara itu. Sekar.
Suasana menjadi riuh. Kami beranjak dari sofa empuk ini. Melonjak ke arah Sekar. Menghampirinya dengan pelukan. Pelukan penuh kerinduan. Juga macam-macam pernyataan yang spontan keluar dari mulut kami. Kami tidak pernah bisa berhenti bercerita ketika bertemu. Kali ini juga hal itu yang terjadi. Air mataku menetes. Kulihat, Sekar juga menangis, dengan senyum manis yang menjuntai.
"Maafin gue, ya. Gue gak bisa lama-lama pergi dari kalian. I'm home. Gue pulang ke rumah. Masih boleh dibukain pintu kan?" Sekar terbata-bata. Tatapannya jujur. Aku tau ia tak akan bisa lebih lama lagi menjebak kami dalam situasi terburuk sepanjang masa persahabatan kami ini.
"Boleh, lah! Boleh banget. Harusssss."
"Ini rumah lo, Kar... Kita kan keluarga"
"Gak akan ada yang boleh pergi lama-lama dari rumahnya. Gak boleh."
Kami merapatkan lagi pelukan satu sama lain. Menciptakan suatu lingkaran manusia. Dengan air mata bahagia. Rindu yang tak sanggup dibendung. Dan tawa yang pada akhirnya kembali membanjir.
Benar kan apa yang kubilang? Rumah tidak akan benar-benar menjadi rumah ketika salah satu penghuninya pergi.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program dari di Facebook dan Twitter

Selasa, 02 September 2014

Dwilogi 'Pertemuan Kita' Antologi Flash True Story dan Puisi Terpilih


Ada kabar gembira! Bukan, bukan tentang ekstrak kulit buah manggis. Hehehe.
Sudah saya ceritakan tentang pengalaman saya mengikuti event menulis yang diadakan suatu penerbit buku online kan? Voila! This is the good news!
Buku dwilogi 'Pertemuan Kita' Antologi Flash True Story dan Puisi Terpilih sudah dapat dipesan. Pemesanan bisa dilakukan di website Mafaza Media. Atau dapat dilihat di grup Antologi Penerbit Mafaza Media di link ini. Saat ini pemesanan buku masih dalam tahap pre-order. Buku baru akan naik cetak tanggal 6 September 2014. Jadi, sering-seringlah cek halaman websitenya untuk available pemesanan.
Sekedar info, naskah flash true story milik saya diterbitkan pada buku Pertemuan Kita 1. Sisanya merupakan naskah-naskah flash true story dan puisi terpilih rekan-rekan penulis lainnya.
Order now! And i'm really appreciate for that :))))
Enjoy! Thank you sooooooooooo much :*

Senin, 01 September 2014

Kisah Cacat

Aku sedang merapihkan isi tasku dan bersiap keluar kelas, ketika sebuah tangan menyentuh pundakku. Ketemui sepasang bola mata yang sudah lama menghiasi mimpiku setiap malam, ketika kubalikan tubuhku. Arya.
"Kenapa, Ya?" tanyaku. Aku gugup. Ia dekat sekali. Aku dapat menghirup aroma parfumnya yang sudah sangat kukenal.
"Gak apa-apa sih, Din. Gue cuma mau ngasih ini." ia menyodorkan sebuah kotak transparan dengan pita mengikatnya. Kurasa isinya coklat dengan merk favoritku. Ada secarik kertas berwarna ungu di atasnya. Ia memberiku bingkisan ini? Untuk apa?
"Gue tau lu suka banget ngemil coklat, makanya gue kadoin ini. Hehehe. Jangan dibuka sekarang. Entar aja kalo udah di rumah, ya." lanjutnya sebelum aku dapat mengeluarkan kalimat apapun. Ia tersenyum dan berlalu meninggalkanku.

**

"Dinda....." suara lirih Mira terdengar dari ujung telepon genggamku. Ia tampak terisak, sementara aku masih harus mengumpulkan nyawaku di pagi sebuta ini. Sekarang hari Minggu, dan sahabat baikku yang satu ini menelponku sepagi ini? Apa yang terjadi padanya?
"Eh, hmm, Mir? Lu nangis? Kenapaaaaa?"
"Arya, Din...."
"Hah? Arya? Kenapa dia?" mendengar Mira menyebut namanya membuatku sadar sepenuhnya. Aku segera memperbaiki posisiku dari atas tempat tidur ini, agar aku dapat mendengar dengan jelas cerita yang akan Mira sampaikan. Tentang Arya, tentu saja.
"Dia nolak gue, Din... Tega banget...." terdengar isakan Mira semakin keras.
Aku? Membatu. Tak percaya pada apa yang baru saja kudengar. Bukan karena bagaimana bisa Arya menolak cinta gadis paling populer di sekolah seperti Mira. Tapi karena bagaimana bisa Mira mengungkapkan cinta pada Arya. Pria yang sudah kukagumi sejak lama. Walau tak ada yang pernah tahu akan hal itu.
"Ha...h? Koo..oo...kk bi..ii...saa, Mir?" hanya itu yang mampu meluncur dari mulutku.
Dan Mira pun bercerita panjang lebar tentang kejadian semalam. Bagaimana ia, ternyata, menyukai Arya. Bagaimana ia, ternyata, mendekati Arya dengan berbagai cara, seperti mengirimkan pesan-pesan singkat, membawakan makanan kesukaannya, mencuri-curi kesempatan agar bisa berbincang dengannya, sampai menyapanya dengan berbagai alasan via media sosial. Sampai akhirnya, Mira berhasil mengajak Arya menghabiskan malam minggu bersama dan menyatakan cinta padanya. Mira bercerita, Arya dengan halus menolak permintaan Mira untuk menjadi kekasihnya, dengan alasan yang tidak dapat ia sampaikan pada Mira.
Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun ketika Mira menceritakan semua hal itu lewat telepon genggam ini. Aku. Tidak. Percaya.
Bagaimana bisa kami tidak saling tahu bahwa kami menyukai pria yang sama?
Aku memang beberapa kali sempat mendengar cerita Mira tentang pria yang ia sukai saat ini. Tapi ia bilang ia tidak akan memberitahuku siapa orangnya, sampai ia benar-benar bisa bersamanya. Aku dan Mira memang terpisah kelas di sekolah, kegiatan dan tugas yang cukup menyita waktu di akhir periode masa sekolah kami ini memang kerap menghalangi kami untuk berjumpa atau bahkan bercerita tentang hal ini dan itu.
Tapi aku benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi.
Mengingat kami bersahabat sudah sejak berseragam putih biru. Rasanya aku hafal betul tipe pria idaman Mira. Dan tidak pernah sekalipun kami setuju pada satu penilaian tentang seorang pria. Bagaimana bisa kali ini kami kompak menyukai pria yang sama?
Dalam hati, aku terus membantah tentang apa yang terjadi pagi ini. Mimpikah ini semua? Sayangnya, tidak. Aku dapat merasakan dengan jelas, dingin air mataku mengalir menyentuh bibir yang kelu ini.
Sebelah tanganku masih menggenggam ponsel untuk mendengar suara Mira di ujung sana. Sebelah tanganku lagi mencoba membuka laci di samping tempat tidurku. Mengeluarkan sepucuk kertas berwarna ungu, warna kesukaanku. Meraba sebaris tinta hitam di atas kertas itu. Membaca dalam hati sekalimat yang tak akan dapat aku lupakan. Dan aku, menemukan hatiku luluh lantak.
"Aku menyukaimu, Dinda. Aku menyayangimu. Sangat... - Arya"

**

Sejak kejadian pagi itu, aku menjalani hariku dengan cukup banyak kepura-puraan. Pura-pura menenangkan Mira tentang Arya. Pura-pura baik-baik saja ketika bertemu dengan Arya, padahal bayangan Mira kerap terlintas setiap kumelihat Arya. Pura-pura tak terjadi apa-apa, sementara hatiku masih dalam kemelut besar. Aku tidak mungkin menyukai pria yang juga sahabatku sukai. Aku tidak ingin dikenang sebagai teman yang menusuk dari belakang sahabatnya sendiri. Aku tidak ingin menghancurkan persahabatanku dengan Mira. Haruskah aku mengalah? Tapi aku mencintai Arya. Mungkin jauh sebelum Mira memperhatikannya. Haruskah aku mengalah, hah?
Arya memang tidak mengubah sikap dan perhatiannya padaku. Hanya saja, ia tampak mengambil keputusan yang cukup bijaksana, untuk tidak memaksaku bersamanya, karena ia tahu betul aku tidak ingin mengkhianati sahabatku sendiri. Ia kerap menjaga jarak denganku, jika di saat itu ada Mira di sekitar kami. Kami seperti sedang bersandiwara. 
Dan aku, hanya bisa menertawakan kisah yang cacat ini.
Benarkah tak ada kisah yang benar-benar sempurna? Mengapa setelah sekian lama aku mencari, dan ketika kumenemukan orang yang tepat, kita bahkan tidak diijinkan bersama? Haruskah kisah dua orang yang saling mencintai tidak berujung pada bahagia? Haruskah ada kecacatan dalam kisah yang nyaris sempurna ini?
Aku masih tidak mengerti. Apa yang sebenarnya semesta inginkan dariku? Menjalani kisah cacat ini?
Baiklah.

Selasa, 12 Agustus 2014

Hujan dan Rindu

Aku menyukai denting hujan di malam dingin
Merdunya menuntunku pada sosokmu
Aku mencintai derai hujan dari langit malam
Wanginya mengantarkanku pada namamu
Hujan dan rindu seperti dua sejoli yang rukun tanpa cela
Hujan dan rindu seperti sepasang kekasih yang setia mencinta
Aku merindukan malam dingin dengan hujan dalam rengkuhanmu
Aku merindukanmu

Jumat, 08 Agustus 2014

Ini Kisah (Event Menulis FTS dan Puisi 'Pertemuan Kita' oleh Mafaza Media)

Ini Kisah
Oleh Mareta Diandra Rachmadani

Ini kisah tentang indahnya pertemuan cinta
Yang tak pernah dapat diukur oleh waktu
Yang tak pantas dimentahkan oleh jarak
Karena pertemuan cinta bukan soal berapa lama
Karena pertemuan cinta bukan juga soal sejauh apa
Ini kisah tentang jingga
Yang tak pernah dapat lama menyapa
Yang tak pernah kuasa lekang mengudara
Hadir sekejap mata, namun indahnya melanglangbuana
Hadir sekejap mata, namun rasanya mengabadi di angkasa
Ini kisah tentang senja
Yang selalu jatuh hati pada jingga
Yang tak dapat mengingkari pesonanya
Tak peduli secepat apa ia akan pergi
Tak peduli secepat apa ia akan kembali sendiri
Ini kisah tentang jingga dan senja
Yang saling mencintai, walau tak pernah diberi cukup waktu
Yang selalu menyertai, walau tahu tak akan menjadi abadi
Ini kisah tentang pertemuan cinta kita
Yang tak mengenal sudah berapa lama
Yang tak pernah bertanya sejauh apa
Seperti kisah jingga dan senja
Tak peduli soal waktu apalagi jarak
Cintaku, tetap kamu



Puisi ini dibuat untuk diikutsertakan pada event menulis yang diadakan oleh Mafaza Media sekitar satu bulan yang lalu. Event menulis FTS dan puisi dengan tema 'Pertemuan Kita'. Event menulis ini bisa jadi event menulis pertama saya sejak mulai 'aktif' menulis lagi, kalau dulu lumayan sering walau cuma tingkat sekolah atau rt/rw hehehe. Untuk event ini saya mendorong diri untuk bisa ikut, pokoknya harus ikut. Lumayan untuk penilaian diri sendiri, sekaligus mengasah kemampuan hehehe. Setelah curi-curi waktu di padatnya jadwal praktikum dan kuliah sepanjang bulan Juli kemarin, ditambah pula beban tema yang harus diangkat, alhamdulillah saya akhirnya mengirimkan dua naskah, 1 naskah FTS dan 1 naskah puisi (yang di atas ini). Alhamdulillah lagi, naskah FTS saya lolos menjadi 50 kontributor terpilih dari 141 naskah FTS yang masuk. Ini prestasi untuk saya, maklum, event pertama dan gak nyangka lolos juga untuk naskah tersebut hehe. Naskah tersebut akan diterbitkan dalam sebuah buku antalogi yang akan diterbitkan oleh Mafaza Media. Promosi bukunya akan saya informasikan selanjutnya, tunggu tanggal mainnya! Hehehe :D
Nah, berhubung naskah puisi ini tidak lolos untuk layak terbit (saingannya banyak loh, ada 252 naskah yang masuk hehehe), jadi rasanya boleh kan saya publish di blog ini? Enjoy! :)

Senin, 04 Agustus 2014

Cara Mentari Menyapa

Aku mencintai malam
Seperti perahu pantang karam
Aku merindukan hujan
Seperti batang menjaga dahan
Aku memimpikan senja
Seperti sang ratu kepada raja
Aku mendamba pelangi
Seperti jemari candu menari
Aku bukan siapa-siapa
Tak bisa apa-apa
Aku hanya menyukai
Cara mentari menyapa pagi
Menghapus gelap
Membawa sejuk
Mengusir gundah
Menghadirkanmu

Sabtu, 12 Juli 2014

Syarat

Aku jatuh cinta pada hal yang belum pernah menjadi tujuanku. Aku kalah pada hal yang selama ini kukenal sebagi prinsip. Aku lemah pada apa yang selama ini tak pernah kuanggap. Aku jatuh cinta padamu. Padamu yang mungkin tak pernah terpikirkan olehku. Padamu yang tak kusangka akan menjadi bagian hati ini. Padamu yang kerap hadir di mimpi-mimpiku belakangan ini. Padamu yang selalu kusanggah kehadirannya. Padamu...

Apa cinta datang dengan syarat? Adakah cinta hadir tanpa syarat?

Sayang, ampuni aku yang seorang pemikir ini. Aku tak pernah bisa benar-benar menerima sesuatu tanpa memikirkannya matang-matang terlebih dahulu. Dan kamu, telah menjadi pemikiranku akhir-akhir ini.

Kau tau kan alasanku? Sudah kulontarkan pada obrolan berjam-jam kita di sudut kafe itu.
Iya, benar. Usiamu bahkan lebih muda dari adik semata wayangku. 3 tahun mungkin bukan jarak yang lebar. Banyak pasangan di luar sana yang bahkan lebih berani dalam mempertautkan jarak usia dalam ikatan cinta. Tapi, aku?

Aku tak pernah mencintai orang yang lebih muda dariku. Mungkin karena aku tidak pernah bertemu dengan seseorang yang lebih muda usianya dariku, namun lebih dewasa pemikirannya dariku. Kata teman-temanku, aku adalah yang paling dewasa di antara kami. Mereka sering menyebutku 'ibu' bagi mereka. Sial, tua sekali rupanya, hahaha. Dan mungkin itulah alasan, mengapa cukup sulit menemukan sosok yang lebih dewasa daripadaku. Hal itu seperti menjadi syarat untukku mencintai seseorang. Ia tak boleh lebih muda dariku. Ia tak boleh ini dan itu dariku. Semua syarat itu mungkin mempersulitku untuk menjalin suatu ikatan cinta. Tapi aku merasa aman, karena syarat-syarat itu, aku bisa mencintai seseorang yang memang benar-benar bisa kucintai. Ampuni aku lagi akan sikapku yang satu ini, sayang. Kau boleh menyebutku perfeksionis, pemilih, atau apapun itu.

Entah apa yang semesta inginkan dariku. Aku jatuh cinta padamu. Pada pertemuan kita yang kedua. Ya, di pertemuan pertama, aku sudah memperhatikanmu, tapi sekuat tenaga kutepis rasa ini. Dan aku kalah pada pertemuan kedua, di lorong gedung kampus kala itu.
Kamu juniorku. Kita saling kenal karena himpunan mahasiswa di kampus. Apa yang bisa kulakukan sebagai seorang senior? Aku wanita, sayang. Dan seniormu, ingatlah. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku benci saat-saat itu..
Tapi hati, tak pernah bisa berbohong. Aku jatuh cinta. Dan tak dapat kuacuhkan lagi rasa itu.

Kamu, menjadi yang paling pertama dalam hidupku, yang mampu mematahkan syarat itu.

Nyatanya, cinta memang bisa hadir tanpa syarat.
Semesta berbaik hati padaku. Dan, kamu.
Di tempat ini.  Di hadapan senja yang menjingga. Di dalam rengkuhan lenganmu. Aku bersandar. Nyaman.
"Happy 5th anniversary, sayang.." aku selalu suka caramu berbisik lembut di telingaku.

Senin, 07 Juli 2014

Jatuh Hati

Tentang kata-kata sederhana yang menjadi berarti
Tentang hal-hal kecil yang kembali dinanti
Tentang mimpi semu yang terus menyelimuti
Tentang sapaan yang mengharumkan hari
Tentang buaian yang indahkan pagi
Tentang nyanyian yang ramaikan sunyi
Tentang jiwa yang tak lagi sepi
Tentang rasa yang liar mencari
Tentang rongga yang telah terisi
Harusnya aku sadar sejak tadi,
aku jatuh hati...

Rabu, 02 Juli 2014

Tidak Lebih 10 Menit

Tidak lebih dari 10 menit
Tuhan memainkan skenario-Nya
Tidak lebih dari 10 menit
Ketidaksengajaan mengantarmu padaku
Ada rasa indah yang menyelinap ketika tatapanmu menusuk retinaku
Ada rasa manis yang menyerbu ketika senyuman itu menghipnotisku
Ada rasa lembut yang menyentuh ketika kusadar dewi amor sedang melirikku
Melalui angin yang berhembus
Mereka bercerita tentang anggunmu
Melalui detik yang mengalun
Mereka bercerita tentang warnamu
Melalui singkatnya takdir yang terjadi
Mungkinkah aku jatuh cinta?
Dengan tidak lebih dari 10 menit?
Anggap saja aku gila..

#FF2in1 : Darah Yang Sama

Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku jatuh cinta. Rasanya sudah sangat lama sejak pria itu pergi mencampakkanku. Aku kecewa. Mungkin tidak percaya lagi pada cinta. Aku membenci. Rasanya cukup muak aku dipermainkan rasa merah jambu itu. Aku bertekad. Sepertinya tidak ingin lagi jatuh cinta. Pada siapapun. Aku bersikeras. Karena hal itu bukan pertama kali yang kurasakan. Semoga semesta mendukung.

Orang-orang mungkin menganggapku gila. Orang-orang mungkin menilaiku tak masuk akal. Mana bisa seseorang menolak jatuh cinta? Mana bisa seseorang melawan rasa cinta bila ia sudah ditakdirkan? Aku mencoba membuktikannya. Setidaknya, sebelum hari ini datang.

Aku melihatnya dari kejauhan. Sosok yang sudah cukup lama kukenal. Entah mengapa, pada pandangan pertama melihatnya lagi setelah sekian lama, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Mungkinkah aku keliru? Mungkinkah aku telah dikalahkan pada egoku sendiri? Mungkinkah aku jatuh cinta lagi? Padanya?

Aku gugup. Tak dapat percaya. Sekian lama aku membentengi hati ini dengan dinding raksasa, berusaha menolak semua perasaan merah jambu. Sekian lama aku berjalan sangat hati-hati agar tidak jatuh untuk kesekian kalinya. Sekian lama aku bersikeras, bahwa aku tidak boleh jatuh cinta lagi jika luka yang akan kuulang. Bagimana bisa, padanya, semua ambisiku itu luruh? Benarkah pada pria ini?

Aku tertegun. Bisakah aku menjadi bagian dari hidupnya? Jika ada darah yang sama mengalir dalam tubuh kami..

"Hai, Ratna, sepupu cantik kesayanganku. Sudah besar sekali kau rupanya, nduk?" ia menyapaku.


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

#FF2in1 : Di Balik Rak Buku Ini

Disinilah aku sekarang. Di balik rak buku perpustakaan yang memisahkan jarak antara kita. Aku tidak kemana-mana. Rak buku ini sudah seperti saksi bisu, betapa setiap saat aku hanya bisa mengagumimu dari jauh. Rak buku ini sudah seperti saksi bisu, betapa aku tak pernah bisa memalingkan pandanganku darimu.
Kamu masih sibuk dengan buku yang sama, sejak kemarin kau datang ke perpustakaan yang aku kelola ini. Sastra. Sepertinya itu cabang ilmu keahlianmu. Ah, bagaiman kita bisa memiliki kesamaan? Aku juga mencintai sastra. Namun tidak melebihi cintaku padamu, sepertinya. Hari ini kau datang dengan setelan blues berwarna merah marun. Kau tampak anggun, sungguh. Ya, seperti biasanya. Kamu juga memilih bangku yang sama setiap kau datang ke tempat yang sudah seperti rumahku sendiri ini. Hal itu memudahkanku untuk memantaumu dari jauh. Hal itu juga memudahkanku, untuk selalu berusaha merahasiakan perasaanku ini.
Aku memang mengagumimu. Sangat menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu. Jangan tanya sejak kapan kumulai menyimpan rasa ini. Aku tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkannya. Ya, kau boleh menganggapku pecundang. Tapi aku tahu diri. Bagaimana bisa aku bersanding denganmu, ibu dosen cantik?

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Minggu, 29 Juni 2014

Another Untitled

Aku mungkin tidak sebaik Siti Khadijah
Aku juga mungkin tidak secantik Siti Fatimah
Dan mungkin tidak sesabar Siti Aisyah
Mungkin aku hanya selayaknya tulang rusuk yang akan terus membengkok
Karena itu, aku ingin menjadi bagian dari tulang rusukmu
Yang akan senantiasa kau bimbing hingga lurus
Dalam mencari ridho Allah
Bersama-sama denganmu, jodohku.



First wrote on my phone notepad, personally.
Why 'untitled'? Cause I never give it a title when i wrote it many months ago.
Ini semacam kata hati, dan doa. Bantu, aminkan, ya :)
Pernah diupload dalam bentuk jpeg di akun facebook :D

Kamis, 19 Juni 2014

Apa Namanya?

Apa namanya kalau masih memikirkan?
Apa namanya jika masih mencari tahu?
Apa namanya bila kerap teringat?
Apa namanya kalau selalu rindu?
Apa namanya jika ketir setiap mendengar namamu?
Apa namanya bila tak kuasa memandang ketika berjumpa?
Ini gila.
Aku benar-benar jatuh cinta?

Minggu, 15 Juni 2014

Surat Dari Cinta

Dari : Cinta
Untuk : Pria senja hari dengan kacamata segi empat, yang sedang memegang kertas ini

Selamat malam.
Apa kabar? Harusnya tak perlu kutanyakan hal klise itu, bukan? Hahaha. Harusnya akulah yang paling tau bagaimana keadaanmu, dimana kau berada, apa yang sedang kau kerjakan, bagaimana makan siangmu tadi, apa rencanamu esok hari, larutkah tidurmu malam ini, dan banyak hal lainnya yang selalu kita bicarakan akhir-akhir ini. Sekarang? Tidak ada lagi.
Sebenarnya, surat ini kutulis, untuk meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. Tentang perubahan sikapku, yang kerap kau pertanyakan. Tentang apa yang terjadi, hingga aku 'mendingin' padamu. Tentang pertanyaan-pertanyaanmu yang seakan-akan resah karena aku mulai menjaga jarak. Sudah kubilang kan, semua keputusan pasti mempunyai alasan? Aku punya alasan untuk ini semua.
Aku mengenalmu, sudah cukup lama. Tak pernah tersirat dalam pikiranku untuk lebih dekat denganmu. Tak pernah. Sebagai kenalan semata, kamu bahkan tidak termasuk dalam tipe pria idamanku. Aku tidak suka pria berkacamata. Terlalu menjemukan. Maaf, tapi itu jujur, hehehe. Maka tak aneh, jika dulu aku justru jatuh hati pada rekanmu yang maskulin itu. Maaf ya. Hehehe.
Saat kau datang menghampiriku, di sebuah senja kala itu. Aku bahkan tak menyadari bahwa kau akan jadi orang penting dalam sejarahku.
Kau mulai mencoba menarik perhatianku. Aku sendiri tak percaya, apa yang kau lihat dariku sebenarnya? Aku pasti tak seistimewa mantan kekasihmu itu, atau wanita-wanita yang kau lirik sebelumku. Tubuhku tambun. Pipiku lebar. Modalku hanya lesung di kedua pipi ini yang katanya mampu menambah manis senyumku. Lalu, mengapa kau menghampiriku? Mungkin, kau hanya penasaran? Iya kah? Ah, kau jahat, jika memang itu adanya. Penasaran semata, bukan alasan yang baik untuk seorang pria mencoba mendekati seorang wanita.
Atau, kau hanya ingin 'mencoba'? Jatuh cinta tidak semurahan itu. Harusnya kau tau itu. Memangnya aku ini apa? Kelinci percobaan? Jika itu tujuanmu, bukan hanya aku yang akan membencimu. Sahabat-sahabatku pun pasti akan mengutukmu. Hanya wanita bodoh yang terima perlakuan direndahkan seperti itu.
Atau, kau sebenarnya hanya butuh 'teman pelepas bosan'? Jika seperti itu adanya, kusarankan padamu untuk berlangganan sms berbayar saja pada ponselmu. Hahaha. Aku serius. Untuk apa menghabiskan waktuku jika itu yang kau mau? Kau pikir hatiku terbuat dari batu karang, yang tak akan bergeming walau diterjang ombak setiap saat? Jika aku terlanjur nyaman padamu, kau mau apa? Bisakah kau bertanggung jawab? Aku tak sudi.
Kau harus tau. Aku meragu padamu.
Bukan karena aku tidak bisa 'jatuh cinta' padamu. Tapi karena aku ragu, benarkah kau 'jatuh cinta' padaku.
Seseorang yang jatuh cinta pasti bisa merasakan hal yang tidak ia rasakan pada sosok lain. Dan sepertinya, kau tidak merasakan hal itu. Iya, kan?
Dan hal yang membuatku gusar, mengapa tak kau tinggalkan aku? Mengapa kau terus mencoba melakukan hal-hal yang selalu kau tunjukkan padaku selama ini? Mengapa ketika kau sadar, kau tidak benar-benar menyukaiku, kau tidak langsung pergi baik-baik sehingga aku tidak perlu mengharapkanmu lagi?
Kau justru bersikap seolah-olah tidak ada yang salah. Permainan peran kah itu semua? Bagus sekali.
Mungkin kau berpikir aku agak berlebihan. Terserahlah. Aku memang seorang pemikir. Begini adanya. Aku tidak bisa membiarkan hal semu seperti yang kau lakukan ini berlangsung lebih lama lagi. Aku tidak bisa berlama-lama membiarkan hatiku kau oyak-oyak, dan kemudian aku tau kau pasti akan meninggalkanku begitu saja ketika kau sudah bosan. Aku lebih baik sendiri daripada harus bersama dengan orang yang ingin bermain-main semata.
Sikapmu yang seolah-olah keberatan jika aku berubah itu, membuatku muak. Aku tak mengerti jalan pikiranmu. Sudah kubilang kan, tinggalkan saja aku, jika memang kau tak benar-benar menginginkanku. Bagaimana bisa seseorang tetap bertahan pada satu hal, yang bahkan ia sendiri telah mengakuinya bahwa ia tidak bisa menjalaninya?
Jahat.
Tapi, kuserahkan semuanya padamu. Maafkan aku jika aku harus berubah. Tenang, setidaknya aku masih bisa bersikap biasa seperti aku dan kamu yang dulu. Sebelum semua ini terjadi. Aku janji untuk hal itu :)
Kau pasti sedang mengutukku karena bagimu ini berlebihan, ya?
Aku tidak akan seperti ini, jika aku belum terlanjur menyukaimu.

Jika kau tak bisa yakinkan dirimu sendiri, jangan pernah coba-coba kau yakinkan hati orang lain. Karena ketika hati orang itu terlanjur yakin padamu, saat kau belum benar-benar yakin, kau bisa apa? Tinggalkan aku.

Terima kasih untuk membuatku sempat merasakan jatuh cinta lagi.



Ditemani senja yang sama,
Cinta.

Minggu, 08 Juni 2014

Cinta

Cinta bukanlah perkara menjadi pemenang di setiap argumen. Bukan juga perkara mengalah pada setiap perbedaan.
Cinta bukanlah siapa yang paling mencintai apa adanya. Juga bukan tentang siapa yang siap menerima apapun adanya.
Cinta bukan perihal ia yang paling banyak memberi. Bukan juga perihal ia yang paling sering menerima.
Cinta bukan bagaimana membenarkan walau ia salah. Bukan bagaimana membela walau tak perlu dibela.
Cinta bukan urusan menyerahkan diri tanpa syarat. Bukan pula urusan merelakan tanpa belas kasihan.

Cinta tak perlu mengalah. Cinta janganlah menerima apa adanya. Cinta bukan perlombaan memberi atau menerima. Cinta tak boleh selalu membenarkan. Cinta bukanlah penyerahan diri tanpa syarat.

Cinta adalah perkara saling. Saling mengasihi. Saling menghormati. Saling menghargai. Saling memberi. Saling menerima. Saling membuka diri. Saling mengantisipasi. Saling menenangkan. Saling memenangkan. Saling cinta.

Cinta adalah perihal sama-sama mendaki sampai ke puncak. Bukan mengejar karena tertinggal. Bukan juga turun menjemput karena terlampau setinggi puncak.

Cinta itu dua arah, sayang. Aku dan kamu. Bukan aku saja. Atau kamu saja.


04-06-2014

Kamis, 29 Mei 2014

Ketika Panah Cinta Dilepaskan



Putri

Aku belum pernah melihat pria ini. Mungkin ini kali pertama ia datang ke panti ini. Ah, apa hanya aku saja yang melewatkannya selama ini?

Panti asuhan ini sudah seperti rumah keduaku. Sejak duduk di bangku SMA aku sudah gemar turun tangan dalam kegiatan-kegiatan sosial. Bagiku, menolong atau sekedar menghibur mereka yang tidak seberuntung orang kebanyakan adalah hal yang menyenangkan. Dan panti asuhan ini adalah salah satu tempatku memperoleh kesenangan itu. Aku amat menyukai anak kecil. Bagiku, mereka benar-benar seperti malaikat tak berdosa dengan segala tingkah lucunya. Melihat mereka bersedih karena harus kehilangan kedua orang tuanya adalah hal yang menyakitkan untukku. Membuatku selalu merasa wajib bersyukur karena dilahirkan di keluarga yag harmonis dan masih dapat memeluk kedua orang tuaku erat. Ada hal yang tak dapat kujelaskan, yang membuatku merasa harus menolong atau sekedar berbagi canda dan tawa bersama mereka.

Biasanya, kuhabiskan waktu akhir pekanku di panti ini. Mengingat kegiatanku sebagai mahasiswa tingkat akhir, dengan segala jurnal dan tuntutan menyelesaikan studi tepat waktu, membuatku agak kesulitan untuk berkunjung ke panti ini setiap hari. Disini, aku dapat melakukan banyak hal. Membantu Ibu Maryam menyiapkan makan untuk anak-anak. Membantu Pak Soleh membersihkan taman tempat bermain anak-anak. Dan yang utama, mengajari anak-anak mengaji atau belajar materi sekolah mereka setiap selepas Ashar.

Ada pemandangan baru yang kutemukan hari ini. Ada seorang pria yang berkunjung ke panti ini. Anehnya, aku tak mengenalnya. Padahal, anak-anak begitu akrab dengannya. Anak-anak juga bercerita bahwa Kak Arman (sapaan mereka kepada pria ini) sering berkunjung ke panti ini. Aneh. Bagaimana bisa aku tak mengenalinya?

Ada lagi hal aneh yang kulihat dari dirinya. Ia tampak semrawut. Dandanannya cukup nyentrik. Dari gayanya, sepertinya ia bukan mahasiswa. Ia tampil seperti penyanyi rock yang sering kutemukan di layar kaca. Pakaiannya serba hitam. Dengan rompi berbahan kulit yang juga sudah usang. Ia menutupi kepalanya dengan topi yang dipakai berputar ke belakang. Ia datang dengan gitarnya. Banyak tempelan berbagai macam bentuk dan tulisan yang memenuhi badan gitarnya. Ia benar-benar tampak nyentrik. Dan bagaimana bisa pria nyentrik seperti ini aku temukan begitu akrab dengan anak-anak di panti asuhan ini?

Usut punya usut, ternyata namanya memang benar Arman. Ia adalah seniman jalanan yang memang rutin datang ke panti ini untuk menghibur anak-anak. Ibu Maryam yang bercerita kepadaku, saat menemukanku sedang diam-diam memperhatikan pria itu dari kejauhan.  Katanya, Arman seumuran denganku. Ia kerap berkunjung ke panti ini di hari-hari kerja, hari yang tak mungkin bisa kuluangkan waktuku untuk berkunjung ke sini. Pantas saja, aku belum pernah melihatnya.

Ibu Maryam bercerita banyak tentang Arman. Katanya, walau ia pria jalanan, ia sangat mencintai anak-anak. Terlebih lagi, ia juga kerap turun dalam aksi sosial, membantu mereka yang kesulitan. Padahal, ia sendiri bukan orang yang tak butuh bantuan. Tapi ia selalu menolak untuk dikasihani. Katanya, pria itu dilahirkan untuk membantu, bukan dikasihani. Katanya, ia akan mampu bertahan hidup dengan membantu orang lain. Sungguh, mendengar cerita dari Ibu Maryam ini membuatku semakin penasaran dengan pria ini.

Aku hidup di lingkungan sosial yang cukup hangat. Aku sering terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan sosial. Tapi aku tak pernah menemukan pria sepertinya. Yang rela bersusah payah membantu orang lain, bahkan dalam kondisinya yang juga butuh bantuan. Kata Ibu Maryam, walaupun ia bukan kaum intelektual yang mengenyam pendidikan tinggi, Arman adalah pria yang cerdas. Ia memiliki karakter pribadi yang kuat, yang mungkin tidak semua kaum intelektual itu miliki karena sudah terlalu muak dengan fananya kehidupan. Tapi Arman berbeda, baginya, kesejahteraan orang-orang di sekelilingnya jauh lebih penting dari apapun.
Setelah mendengar cerita panjang Ibu Maryam tentang sosok pria ini, aku menemukan diriku diselimuti rasa kagum padanya. Sosok yang belum pernah aku temui sebelumnya. Diam-diam, aku masih memperhatikan dari jauh. Dan mulai larut, dengan senyum merekah di bibir, tanpa kusadari.

Ketika mata ini tak lepas memperhatikannya dari jauh. Sepasang mata yang dimiliki tubuh yang sedang kuperhatikan itu menoleh ke arahku. Tersenyum.  Hangat sekali. Dan, oh tidak. Ia berjalan ke arahku.

Aku..aaa...ini...harus bagaimana.

Aku salah tingkah.

**

Arman

Rasanya, ada yang memperhatikanku dari jauh sedari tadi. Sebagai seorang perasa yang normal, aku dapat merasakan gerak-gerikku diperhatikan orang lain. Tapi, siapa?

Aku sudah hampir satu jam berada di ruangan bermain ini. Dengan gitar yang selalu menemani langkahku mencari sesuap nasi ini, aku memainkan beberapa lagu kesukaan mereka, anak-anak panti yang sedari tadi riang berdendang bersamaku. Aku memang mencintai anak-anak. Mereka sangat polos dan tidak berdosa. Mereka tidak boleh tersakiti. Hatinya masih terlalu putih untuk kelamnya kehidupan yang sesungguhnya. Terlebih, aku juga mencintai orang-orang di sekelilingku seperti aku mencintai diriku sendiri. Rasanya tak tega bila tetap diam saat melihat di sekitarku ada yang sedang kesulitan. Tidak, aku bukannnya sombong. Aku memang masih sangat membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup. Membantu sesama dalam keadaanmu yang lapang adalah kewajiban, tapi membantu sesama ketika kau sedang dalam kesempitan, aku rasa itu lebih mulia.

Keadaanku yang menyedihkan ini yang mungkin mendorongku untuk lebih mencintai sesama. Aku sebatang kara hidup di jalanan. Jangan tanya, kemana keluargaku. Aku bahkan tak mengenal mereka. Jangan tanya juga, tamatkah sekolahku. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku masuk ke dalam ruang kelas. Rasanya itu sudah belasan tahun lalu. Ketika keluarga cendana yang cemerlang itu masih menguasai tanah air ini, aku terakhir kali menerima rapor nilaiku kelas 5 SD. Ya, beruntungnya aku masih bisa membaca dan menulis. Ditambah lagi, aku termasuk orang yang mudah bergaul. Temanku cukup banyak. Dan dari mereka semua aku juga belajar ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Jadi ya, setidaknya aku masih tau perkembangan dunia, tidak bodoh betul sepertinya. Hehehe.

Aku kembali memutar pandanganku ke seluruh penjuru ruangan untuk menemukan sesosok mata yang sedari tadi menghujaniku dengan tatapannya.

Ah, dia? Gadis dengan kemeja bunga berwarna hijau tosca itu? Apa yang dia perhatikan sejak tadi?

Aku penasaran. Baiknya, kutanyakan saja langsung padanya.

Aku pun mengumbar senyum dan mulai melangkah ke arahnya yang sedang duduk di salah satu pojok ruang ini.

Ia yang menyadari bahwa aku memergokinya tampak mulai mengatur posisi duduknya. Ia tampak salah tingkah. Dengan wajah memerah, ia menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya, sembari sesekali menggaruk bagian belakang kepalanya yang kuyakin betul tidaklah benar-benar terasa gatal.

Lucunya gadis ini.

Tapi tunggu, siapa dia? Ah, apa jangan-jangan dia adalah gadis yang kerap Ibu Maryam ceritakan padaku? Mahasiswi yang kerap membantu di panti asuhan ini?

“Assalamualaikum.” aku mengulum senyum. “Boleh duduk disini?”
“Wa..walaikumsalam.. eh, iya, hmm boleh..” wajahnya masih memerah ketika ia mendongakkan kepalanya ke arahku. Dengan jarak sedekat ini, senyumnya manis bukan main.
“Apa aku hanya kegeeran atau emang dari tadi kamu merhatiin aku, ya?” entah mengapa bagaimana bisa aku begitu percaya diri melontarkan pertanyaan itu pada gadis manis ini. Bodohnya. Sekarang, aku yang salah tingkah.
“Hahaha instingmu kuat juga ya. Sedang asyik memainkan gitarmu itu, masih bisa juga menangkap basah aku disini.” syukurlah, sepertinya gadis ini cukup ramah. “Tadi, Ibu Maryam bercerita banyak tentang dirimu.” lanjutnya.
“Biar kutebak, kamu yang namanya Putri?”
“Dari mana bisa tau?” dahinya berkerut.
“Oh, ternyata benar. Seorang mahasiswi yang kerap membantu Bu Maryam dan Pak Soleh di panti ini, kan? Kenalkan, aku...”
“Arman, kan?” ia menoleh ke arahku, membiarkan sorotan matanya yang tajam menghujamku tepat di retina mataku. Aku harus mengakui satu hal lagi. Matanya, aduhai, indah nian. Hitam pekat. Tatapan seorang pemberani.
“Hahaha, aku lupa, Ibu Maryam pasti sudah banyak bercerita tentangku, ya?” tanyaku. Sedikit salah tingkah.
“Jadi, kita sudah berkenalan nih? Lewat bu Maryam?” giliran ia yang menggodaku. Tak usah kau goda, nona manis, aku sudah tergoda olehmu sejak kau ulum senyum manis dan kau pancarkan sinar matamu yang tajam itu.

Kami tertawa bersama. Tawa Putri terdengar amat merdu di telingaku. Dan tawaku pun belum pernah seringan ini. Aku tidak pernah merasa senyaman ini berada di samping seorang wanita sebelumnya. Ah, gila. Rasanya belum ada 10 menit aku di sampingnya. Mungkinkah aku jatuh hati? Pada pandangan pertama? Tapi, siapalah aku ini? Aku hanya seorang pengamen jalanan. Aku mana pantas bersanding dengan gadis ini. Ia yang berpendidikan tinggi, mana sudi menerima cintaku yang tak tau diri ini. Modalku, hanyalah keberanian dan harapan yang besar untuk berbagi kebaikan bersamanya, bolehkah aku jatuh cinta padanya?

 ***

Senyum menjulang. Dari atas sini. Dari sosok yang sejak lama memperhatikan keduanya. Tanpa mereka ketahui.

Ho ho ho. Aku dewa cinta. Senang rasanya bisa melihat dua anak manusia itu mulai memendam kagum satu sama lain. Mereka pasti tak akan sadar, aku telah memperhatikan keduanya dari atas sini sejak lama. Ho ho ho. Tugasku adalah menancapkan panah cinta. Panah yang bisa membuat siapa saja yang aku takdirkan untuk jatuh hati dan saling mencinta. Siapa saja. Camkan itu baik-baik, ho ho ho. Apa kau bilang? Kau merasa tak tau diri untuk mencintainya? Kau bilang kau merasa tak pantas untuk bersanding dengannya? Jangan bodoh, anak adam! Kau bukan Tuhan yang bisa memutuskan pantas atau tidaknya kalian untuk bersama. Kau juga bukan aku yang dapat mengatur pada siapa panah cinta ini kulepaskan. Enak saja! Kau hanya pelaku kehidupan di dunia. Urusan pada siapa cintamu akan berlabuh, bukanlah kuasamu. Hatimu itu terbuat dari sekumpulan darah. Ia amat lemah. Dan sangat jujur. Ia adalah satu-satunya organ dalam tubuhmu yang tak dapat berbohong. Saat panah telah kutancapkan padanya, maka kau tak akan bisa mengelak. Apalagi sekedar nego, pada siapa kau akan jatuh cinta. Siapalah dirimu bukanlah hal yang penting. Bagaimanakah hidupmu juga bukanlah inti dari sakralnya rasa cinta. Kau pasti akan terkejut, jika kau tau, bidadari yang kau bilang tak pantas kau miliki itu juga mempunyai rasa yang sama seperti yang ada dalam hatimu. Dunia ini seperti misteri, hai anak adam. Tak akan ada yang tau, akan bagaimana ia mempermainkanmu. Tak akan ada yang tau, akan seperti apa hidupmu mengalir. Kecuali Tuhanmu, dan ya, aku, penghuni khayangan, oknum yang dipercaya Tuhan untuk mempermudah hidup kalian, ho ho ho. Sudahlah, kau terima saja takdirmu itu. Terimalah dengan bahagia perasaan bahagia yang Tuhanmu titipkan untukmu. Jangan pernah sekalipun kau merasa tak pantas diri. Kau hanya perlu buktikan! Bahwa hasutan dari otakmu itu salah besar. Dan sampaikan salamku pada hasutan dari otakmu itu, katakan padanya, tak akan ada yang bisa melawanku, melawan takdir jika panah cinta telah kulepaskan. Karena tak akan ada yang salah dalam mencintai. Siapapun dirimu, siapapun dirinya. Tak akan ada yang bisa menghalangi, jika cinta sudah merekah. Dan kau tak perlu membodohi diri sendiri. Kejarlah ia! Dapatkan hatinya! Jika kau memang cinta. Persetan dengan siapa dirimu dan siapa dirinya, itu. Ingat ucapanku ini, hai anak adam! Ho ho ho.

Ia bersiap dengan panah cintanya. Sepasang panah ia siapkan. Untuk sepasang hati yang sedang merekah di bawah sana. Ketika takdir telah bercerita, cinta mengalun indah. Dan ketika itu pula, panah cinta dilepaskan.

Selasa, 27 Mei 2014

Untukmu, dalam Baris Doa dan Asa



Mungkin benar...
Harusnya aku tak perlu mencari bahagia selain dirimu
Meskinya aku tak tergoda pada sapaan fatamorgana di tengah kemarau
Mungkin benar...
Baiknya kutunggu saja hadirmu pada hari yang terjanjikan
Baiknya kusabar memupuk asa demi janji bahagia bersama
Maafkan aku
Yang sempat hilang diri memiliki cinta lain dalam hati
Yang sempat tak tau diri khianati rasa yang tersimpan dalam hati
Ijinkan aku
Untuk memulai lagi senandung harapan dalam diamku
Untuk membangun kembali tumpukan rindu milik kau dan aku
Kini aku sadar
Menantimu dalam diam, walau tanpa angan-angan cemerlang
Adalah hal terbaik yang harus kulakukan
Kini aku mengerti
Mencintaimu dalam asa, walau tak pernah tau akhirnya
Adalah jalan terbaik yang harus kupilih
Semoga Tuhan memaafkanku atas kesalahan yang lalu

Untukmu, nama yang selalu kupanjatkan dalam baris-baris doa dan asa
24-05-2014