Kamis, 29 Mei 2014

Ketika Panah Cinta Dilepaskan



Putri

Aku belum pernah melihat pria ini. Mungkin ini kali pertama ia datang ke panti ini. Ah, apa hanya aku saja yang melewatkannya selama ini?

Panti asuhan ini sudah seperti rumah keduaku. Sejak duduk di bangku SMA aku sudah gemar turun tangan dalam kegiatan-kegiatan sosial. Bagiku, menolong atau sekedar menghibur mereka yang tidak seberuntung orang kebanyakan adalah hal yang menyenangkan. Dan panti asuhan ini adalah salah satu tempatku memperoleh kesenangan itu. Aku amat menyukai anak kecil. Bagiku, mereka benar-benar seperti malaikat tak berdosa dengan segala tingkah lucunya. Melihat mereka bersedih karena harus kehilangan kedua orang tuanya adalah hal yang menyakitkan untukku. Membuatku selalu merasa wajib bersyukur karena dilahirkan di keluarga yag harmonis dan masih dapat memeluk kedua orang tuaku erat. Ada hal yang tak dapat kujelaskan, yang membuatku merasa harus menolong atau sekedar berbagi canda dan tawa bersama mereka.

Biasanya, kuhabiskan waktu akhir pekanku di panti ini. Mengingat kegiatanku sebagai mahasiswa tingkat akhir, dengan segala jurnal dan tuntutan menyelesaikan studi tepat waktu, membuatku agak kesulitan untuk berkunjung ke panti ini setiap hari. Disini, aku dapat melakukan banyak hal. Membantu Ibu Maryam menyiapkan makan untuk anak-anak. Membantu Pak Soleh membersihkan taman tempat bermain anak-anak. Dan yang utama, mengajari anak-anak mengaji atau belajar materi sekolah mereka setiap selepas Ashar.

Ada pemandangan baru yang kutemukan hari ini. Ada seorang pria yang berkunjung ke panti ini. Anehnya, aku tak mengenalnya. Padahal, anak-anak begitu akrab dengannya. Anak-anak juga bercerita bahwa Kak Arman (sapaan mereka kepada pria ini) sering berkunjung ke panti ini. Aneh. Bagaimana bisa aku tak mengenalinya?

Ada lagi hal aneh yang kulihat dari dirinya. Ia tampak semrawut. Dandanannya cukup nyentrik. Dari gayanya, sepertinya ia bukan mahasiswa. Ia tampil seperti penyanyi rock yang sering kutemukan di layar kaca. Pakaiannya serba hitam. Dengan rompi berbahan kulit yang juga sudah usang. Ia menutupi kepalanya dengan topi yang dipakai berputar ke belakang. Ia datang dengan gitarnya. Banyak tempelan berbagai macam bentuk dan tulisan yang memenuhi badan gitarnya. Ia benar-benar tampak nyentrik. Dan bagaimana bisa pria nyentrik seperti ini aku temukan begitu akrab dengan anak-anak di panti asuhan ini?

Usut punya usut, ternyata namanya memang benar Arman. Ia adalah seniman jalanan yang memang rutin datang ke panti ini untuk menghibur anak-anak. Ibu Maryam yang bercerita kepadaku, saat menemukanku sedang diam-diam memperhatikan pria itu dari kejauhan.  Katanya, Arman seumuran denganku. Ia kerap berkunjung ke panti ini di hari-hari kerja, hari yang tak mungkin bisa kuluangkan waktuku untuk berkunjung ke sini. Pantas saja, aku belum pernah melihatnya.

Ibu Maryam bercerita banyak tentang Arman. Katanya, walau ia pria jalanan, ia sangat mencintai anak-anak. Terlebih lagi, ia juga kerap turun dalam aksi sosial, membantu mereka yang kesulitan. Padahal, ia sendiri bukan orang yang tak butuh bantuan. Tapi ia selalu menolak untuk dikasihani. Katanya, pria itu dilahirkan untuk membantu, bukan dikasihani. Katanya, ia akan mampu bertahan hidup dengan membantu orang lain. Sungguh, mendengar cerita dari Ibu Maryam ini membuatku semakin penasaran dengan pria ini.

Aku hidup di lingkungan sosial yang cukup hangat. Aku sering terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan sosial. Tapi aku tak pernah menemukan pria sepertinya. Yang rela bersusah payah membantu orang lain, bahkan dalam kondisinya yang juga butuh bantuan. Kata Ibu Maryam, walaupun ia bukan kaum intelektual yang mengenyam pendidikan tinggi, Arman adalah pria yang cerdas. Ia memiliki karakter pribadi yang kuat, yang mungkin tidak semua kaum intelektual itu miliki karena sudah terlalu muak dengan fananya kehidupan. Tapi Arman berbeda, baginya, kesejahteraan orang-orang di sekelilingnya jauh lebih penting dari apapun.
Setelah mendengar cerita panjang Ibu Maryam tentang sosok pria ini, aku menemukan diriku diselimuti rasa kagum padanya. Sosok yang belum pernah aku temui sebelumnya. Diam-diam, aku masih memperhatikan dari jauh. Dan mulai larut, dengan senyum merekah di bibir, tanpa kusadari.

Ketika mata ini tak lepas memperhatikannya dari jauh. Sepasang mata yang dimiliki tubuh yang sedang kuperhatikan itu menoleh ke arahku. Tersenyum.  Hangat sekali. Dan, oh tidak. Ia berjalan ke arahku.

Aku..aaa...ini...harus bagaimana.

Aku salah tingkah.

**

Arman

Rasanya, ada yang memperhatikanku dari jauh sedari tadi. Sebagai seorang perasa yang normal, aku dapat merasakan gerak-gerikku diperhatikan orang lain. Tapi, siapa?

Aku sudah hampir satu jam berada di ruangan bermain ini. Dengan gitar yang selalu menemani langkahku mencari sesuap nasi ini, aku memainkan beberapa lagu kesukaan mereka, anak-anak panti yang sedari tadi riang berdendang bersamaku. Aku memang mencintai anak-anak. Mereka sangat polos dan tidak berdosa. Mereka tidak boleh tersakiti. Hatinya masih terlalu putih untuk kelamnya kehidupan yang sesungguhnya. Terlebih, aku juga mencintai orang-orang di sekelilingku seperti aku mencintai diriku sendiri. Rasanya tak tega bila tetap diam saat melihat di sekitarku ada yang sedang kesulitan. Tidak, aku bukannnya sombong. Aku memang masih sangat membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup. Membantu sesama dalam keadaanmu yang lapang adalah kewajiban, tapi membantu sesama ketika kau sedang dalam kesempitan, aku rasa itu lebih mulia.

Keadaanku yang menyedihkan ini yang mungkin mendorongku untuk lebih mencintai sesama. Aku sebatang kara hidup di jalanan. Jangan tanya, kemana keluargaku. Aku bahkan tak mengenal mereka. Jangan tanya juga, tamatkah sekolahku. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku masuk ke dalam ruang kelas. Rasanya itu sudah belasan tahun lalu. Ketika keluarga cendana yang cemerlang itu masih menguasai tanah air ini, aku terakhir kali menerima rapor nilaiku kelas 5 SD. Ya, beruntungnya aku masih bisa membaca dan menulis. Ditambah lagi, aku termasuk orang yang mudah bergaul. Temanku cukup banyak. Dan dari mereka semua aku juga belajar ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Jadi ya, setidaknya aku masih tau perkembangan dunia, tidak bodoh betul sepertinya. Hehehe.

Aku kembali memutar pandanganku ke seluruh penjuru ruangan untuk menemukan sesosok mata yang sedari tadi menghujaniku dengan tatapannya.

Ah, dia? Gadis dengan kemeja bunga berwarna hijau tosca itu? Apa yang dia perhatikan sejak tadi?

Aku penasaran. Baiknya, kutanyakan saja langsung padanya.

Aku pun mengumbar senyum dan mulai melangkah ke arahnya yang sedang duduk di salah satu pojok ruang ini.

Ia yang menyadari bahwa aku memergokinya tampak mulai mengatur posisi duduknya. Ia tampak salah tingkah. Dengan wajah memerah, ia menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya, sembari sesekali menggaruk bagian belakang kepalanya yang kuyakin betul tidaklah benar-benar terasa gatal.

Lucunya gadis ini.

Tapi tunggu, siapa dia? Ah, apa jangan-jangan dia adalah gadis yang kerap Ibu Maryam ceritakan padaku? Mahasiswi yang kerap membantu di panti asuhan ini?

“Assalamualaikum.” aku mengulum senyum. “Boleh duduk disini?”
“Wa..walaikumsalam.. eh, iya, hmm boleh..” wajahnya masih memerah ketika ia mendongakkan kepalanya ke arahku. Dengan jarak sedekat ini, senyumnya manis bukan main.
“Apa aku hanya kegeeran atau emang dari tadi kamu merhatiin aku, ya?” entah mengapa bagaimana bisa aku begitu percaya diri melontarkan pertanyaan itu pada gadis manis ini. Bodohnya. Sekarang, aku yang salah tingkah.
“Hahaha instingmu kuat juga ya. Sedang asyik memainkan gitarmu itu, masih bisa juga menangkap basah aku disini.” syukurlah, sepertinya gadis ini cukup ramah. “Tadi, Ibu Maryam bercerita banyak tentang dirimu.” lanjutnya.
“Biar kutebak, kamu yang namanya Putri?”
“Dari mana bisa tau?” dahinya berkerut.
“Oh, ternyata benar. Seorang mahasiswi yang kerap membantu Bu Maryam dan Pak Soleh di panti ini, kan? Kenalkan, aku...”
“Arman, kan?” ia menoleh ke arahku, membiarkan sorotan matanya yang tajam menghujamku tepat di retina mataku. Aku harus mengakui satu hal lagi. Matanya, aduhai, indah nian. Hitam pekat. Tatapan seorang pemberani.
“Hahaha, aku lupa, Ibu Maryam pasti sudah banyak bercerita tentangku, ya?” tanyaku. Sedikit salah tingkah.
“Jadi, kita sudah berkenalan nih? Lewat bu Maryam?” giliran ia yang menggodaku. Tak usah kau goda, nona manis, aku sudah tergoda olehmu sejak kau ulum senyum manis dan kau pancarkan sinar matamu yang tajam itu.

Kami tertawa bersama. Tawa Putri terdengar amat merdu di telingaku. Dan tawaku pun belum pernah seringan ini. Aku tidak pernah merasa senyaman ini berada di samping seorang wanita sebelumnya. Ah, gila. Rasanya belum ada 10 menit aku di sampingnya. Mungkinkah aku jatuh hati? Pada pandangan pertama? Tapi, siapalah aku ini? Aku hanya seorang pengamen jalanan. Aku mana pantas bersanding dengan gadis ini. Ia yang berpendidikan tinggi, mana sudi menerima cintaku yang tak tau diri ini. Modalku, hanyalah keberanian dan harapan yang besar untuk berbagi kebaikan bersamanya, bolehkah aku jatuh cinta padanya?

 ***

Senyum menjulang. Dari atas sini. Dari sosok yang sejak lama memperhatikan keduanya. Tanpa mereka ketahui.

Ho ho ho. Aku dewa cinta. Senang rasanya bisa melihat dua anak manusia itu mulai memendam kagum satu sama lain. Mereka pasti tak akan sadar, aku telah memperhatikan keduanya dari atas sini sejak lama. Ho ho ho. Tugasku adalah menancapkan panah cinta. Panah yang bisa membuat siapa saja yang aku takdirkan untuk jatuh hati dan saling mencinta. Siapa saja. Camkan itu baik-baik, ho ho ho. Apa kau bilang? Kau merasa tak tau diri untuk mencintainya? Kau bilang kau merasa tak pantas untuk bersanding dengannya? Jangan bodoh, anak adam! Kau bukan Tuhan yang bisa memutuskan pantas atau tidaknya kalian untuk bersama. Kau juga bukan aku yang dapat mengatur pada siapa panah cinta ini kulepaskan. Enak saja! Kau hanya pelaku kehidupan di dunia. Urusan pada siapa cintamu akan berlabuh, bukanlah kuasamu. Hatimu itu terbuat dari sekumpulan darah. Ia amat lemah. Dan sangat jujur. Ia adalah satu-satunya organ dalam tubuhmu yang tak dapat berbohong. Saat panah telah kutancapkan padanya, maka kau tak akan bisa mengelak. Apalagi sekedar nego, pada siapa kau akan jatuh cinta. Siapalah dirimu bukanlah hal yang penting. Bagaimanakah hidupmu juga bukanlah inti dari sakralnya rasa cinta. Kau pasti akan terkejut, jika kau tau, bidadari yang kau bilang tak pantas kau miliki itu juga mempunyai rasa yang sama seperti yang ada dalam hatimu. Dunia ini seperti misteri, hai anak adam. Tak akan ada yang tau, akan bagaimana ia mempermainkanmu. Tak akan ada yang tau, akan seperti apa hidupmu mengalir. Kecuali Tuhanmu, dan ya, aku, penghuni khayangan, oknum yang dipercaya Tuhan untuk mempermudah hidup kalian, ho ho ho. Sudahlah, kau terima saja takdirmu itu. Terimalah dengan bahagia perasaan bahagia yang Tuhanmu titipkan untukmu. Jangan pernah sekalipun kau merasa tak pantas diri. Kau hanya perlu buktikan! Bahwa hasutan dari otakmu itu salah besar. Dan sampaikan salamku pada hasutan dari otakmu itu, katakan padanya, tak akan ada yang bisa melawanku, melawan takdir jika panah cinta telah kulepaskan. Karena tak akan ada yang salah dalam mencintai. Siapapun dirimu, siapapun dirinya. Tak akan ada yang bisa menghalangi, jika cinta sudah merekah. Dan kau tak perlu membodohi diri sendiri. Kejarlah ia! Dapatkan hatinya! Jika kau memang cinta. Persetan dengan siapa dirimu dan siapa dirinya, itu. Ingat ucapanku ini, hai anak adam! Ho ho ho.

Ia bersiap dengan panah cintanya. Sepasang panah ia siapkan. Untuk sepasang hati yang sedang merekah di bawah sana. Ketika takdir telah bercerita, cinta mengalun indah. Dan ketika itu pula, panah cinta dilepaskan.

Selasa, 27 Mei 2014

Untukmu, dalam Baris Doa dan Asa



Mungkin benar...
Harusnya aku tak perlu mencari bahagia selain dirimu
Meskinya aku tak tergoda pada sapaan fatamorgana di tengah kemarau
Mungkin benar...
Baiknya kutunggu saja hadirmu pada hari yang terjanjikan
Baiknya kusabar memupuk asa demi janji bahagia bersama
Maafkan aku
Yang sempat hilang diri memiliki cinta lain dalam hati
Yang sempat tak tau diri khianati rasa yang tersimpan dalam hati
Ijinkan aku
Untuk memulai lagi senandung harapan dalam diamku
Untuk membangun kembali tumpukan rindu milik kau dan aku
Kini aku sadar
Menantimu dalam diam, walau tanpa angan-angan cemerlang
Adalah hal terbaik yang harus kulakukan
Kini aku mengerti
Mencintaimu dalam asa, walau tak pernah tau akhirnya
Adalah jalan terbaik yang harus kupilih
Semoga Tuhan memaafkanku atas kesalahan yang lalu

Untukmu, nama yang selalu kupanjatkan dalam baris-baris doa dan asa
24-05-2014

Minggu, 18 Mei 2014

Rindu Asa

Saat kelabu mengelabuiku
Saat itu aku butuh sesuatu yang dapat menopang
Saat hitam semakin mendekat
Saat itu aku mau sesuatu yang bisa kugenggam
Saat badai menyapa diam-diam
Saat itu aku ingin ada yang dapat menyanggah
Sesuatu yang datang dari lubuk hati
Sesuatu yang tanpa bisa dijelaskan dapat membantu
Sesuatu yang entah bagaimana bisa menjadi jawaban
Sesuatu yang sepertinya hanya dimiliki mereka yang tepat
Aku rindu
Rindu menemukan sesuatu yang aneh itu dalam diri seseorang
Rindu menemukan jawaban yang hanya bisa kudapat dari ia yang tepat
Aku rindu, seperti kemarau merindukan hujan
Saat kusadar tak ada yang dapat menolong
Saat itu aku tau, aku salah akan sesuatu
Tuhan, Engkau benar
Hanya kecewa yang kudapat, jika kugantungkan asa pada selain-Mu

Sabtu, 17 Mei 2014

Mengeja Rasa

Aku bukan pengeja rasa yang ahli
Menemukan arti untuk setiap yang kurasa
Menjabarkan makna di balik serpihannya
Aku bukan pengeja rasa yang peka
Hingga harus terlunta-lunta untuk mendefinisikan setiap baitnya
Hingga butuh puluhan kamus untuk menemukannya harfiah
Terkadang ada hal yang tidak dapat ku definisi
Hal-hal yang rancu untuk dijelaskan
Karena tidak semua rasa bisa kita beri arti
Tapi, tidak pintar mengeja bukan berarti tidak dapat merasakan
Aku dapat merasakan
Ia bersemayam dalam hati, dan ingin terus disirami
Aku dapat merasakan
Ia bersembunyi di balik relung, menanti untuk disemai
Aku memang bukan pengeja rasa yang baik
Membiarkanmu dalam ombang-ambing mauku, itu yang nyatanya terjadi, kan?
Tapi aku bukan pengeja rasa yang tak tau diri
Maka, ajari aku mengejanya. Hingga benar.

Rabu, 14 Mei 2014

Adil?

Coba ceritakan padaku, seperti apa keadilan dalam cinta?
Coba katakan padaku, adakah adil dalam cinta?
Jelaskan, manakah sisi adil dalam cinta, jika tak semua cinta dapat terbalas ?
Katakan padaku, karena aku tak dapat menemukan jawabannya.

Katakan, bagian mana adil itu ada.
Ketika kau menyukai seseorang, begitu tulus. Kau yakin, dia tak mungkin tidak tau akan rasamu itu. Begitu dalam, hingga kau tak ingin dia terluka. Begitu besar, hingga setiap hari kau habiskan waktumu untuk mengaguminya. Jangan tanya siapa saja yang mengetahui isi hatimu itu, senja dan jingga pun tau itu. Namun, dia, yang bahkan sudah paham akan perasaanmu, tidak dapat merasakan apa yang kau rasakan untuknya. Jangankan merasakan hal yang sama, melihat keberadaanmu saja ia tak mampu. Bukan tanpa usaha, tapi begitu adanya, tetap tidak bisa. Tidak bisa. Tak ada alasan. Memang tidak bisa. Sudah tidak bisa. Adilkah?

Katakan, bagian mana adil itu ada.
Ketika kau mencari kesana kemari, seseorang yang seperti idamanmu. Hingga lelah kau mencari karena sudah banyak orang kau jumpai dan kau dekati, dan tak kau temukan juga. Hingga enggan lagi kau mencari. Hingga kau menyerah pada takdir, dan memilih menunggu ia datang menghampirimu. Tiba saatnya takdir berbaik hati padamu, membuatmu bertemu dengan seseorang itu. Seseorang yang dari hal kecil hingga hal besar dalam dirinya adalah yang kau cari. Seseorang yang hadir seperti jawaban dari setiap baris doamu pada-Nya. Seseorang yang kau yakini adalah pemberhentian terakhirmu. Seseorang yang kau percaya, dengannya, kisahmu yang pahit tak akan pernah terulang kembali. Kalian dipertemukan. Dia pun merasakan hal yang sama. Mengagumimu, walau dalam diamnya. Menjagamu, bahkan saat kau tak menyadarinya. Indah. Namun seperti tak diduga ketika takdir mempertemukan kalian, seperti itulah takdir mengatakan padamu, bahwa ia tidak bisa kau miliki. Bukan, bukan karena dia tidak melihatmu. Bukan, bukan karena dia tak menyukaimu. Tapi karena memang tidak bisa. Karena ada orang penting dalam hidupmu yang juga mendambakannya, mungkin. Melahirkan pertanyaan, mengapa takdir tak membawamu yang lebih dulu untuk menemukannya. Adilkah?

Katakan, bagian mana adil itu ada.
Kau terjebak dalam suatu ikatan. Memilih bertahan pada setiap alur cerita karya takdir untuk kalian berdua. Memilih bertahan pada besarnya ego dia yang tak sekuat upayamu mempertahankan semuanya. Ketika kau sudah berjuang mati-matian. Ketika kau sudah mempertaruhkan apapun yang kau punya. Ketika kau sampai gila dan tak mampu mendengar ilalang mengingatkanmu akan angin dunia luar. Ketika ia telah menjadi pusaran duniamu, pusat jiwamu, dan tempatmu berotasi. Ketika setia pun tak lagi mampu menggambarkan dirimu padanya. Dan dengan mudahnya ia pergi. Meninggalkanmu. Tak peduli pada apapun yang telah kau lakukan. Tak peduli pada apapun yang telah kau taruhkan. Hanya demi sosok lain yang bahkan terasa semu untuknya. Maka hancur sudah semua penantian dan pengorbananmu. Adilkah?

Katakan, bagian mana adil itu ada.
Kau sudah bersamanya. Dia yang kau cintai. Yang juga amat mencintaimu. Bersama, semua kalian lalui dengan indah. Tapi seperti pepatah tua berkata, tak akan ada yang sempurna. Jalinan itu tak mendapat apa yang menjadi modal untuk melangkah ke depan. Orang tua. Keluarga. Begitu arogannya mereka tak dapat melihat besarnya cinta kalian. Hingga memisahkan apa yang seharusnya tak terpisah. Dan tak ada yang dapat diperbuat  untuk melawannya. Hingga pasrah akan kemana cerita kalian bermuara. Adilkah?

Aku bukan membenci cinta. Aku juga tidak menghakiminya. Aku hanya berpikir, adakah keadilan dalam cinta? Pada setiap cerita yang ada di dunia. Pada setiap penggalan kisah yang kukatakan di atas, dapatkah kau temukan keadilan itu?
Katakan padaku.
Katakan padaku, karena aku butuh jawabannya.
Katakan padaku, karena salah satu dari kisah di atas, itu aku.
Katakan padaku, karena aku tak tau.
Dan karena yang aku tau, ada atau tidak adanya keadilan dalam cinta, sejatinya, ia tak pernah menuntut keadilan. Ia ada dengan tulus. Tanpa meminta keadilan. Hingga siap diapakan saja olehnya. Hingga ikhlas menerima apa saja perlakuan padanya. Hingga rela diombang-ambing untuk akhir yang menyakitkan sekalipun. Hingga semua pilhan berada dalam genggamanmu, menunggunya memutar balik dan berbaik hati menjawab penantianmu, atau memilih pergi melangkah ke depan mencari tempat lain yang juga tak kau tau akan seperti apa nantinya. Yang jelas, ia hadir dengan tulus, tanpa meminta apapun. Itu, cinta. Bukan begitu?

Dan aku, memilih untuk menunggu.
Sampai takdir menemukanku, menyerahkanmu padaku, dan berbaik hati pada kami.



Repost from my another domain blog page.
First posted on March 15, 2014.

Selasa, 13 Mei 2014

Menolak Jatuh Cinta

Adakah daun yang tidak ingin dijatuhkan dari rantingnya?
Walau semua daun tidak pernah membenci angin yang menjatuhkannya
Adakah hujan yang mengeluh sakit ketika ia menyerbu bumi?
Walau hujan juga tidak akan membenci mendung penguasanya
Adakah kelabu yang bosan dengan pekatnya malam?
Walau kelabu bahkan tidak mampu membenci hitam di setiap malam
Adakah hati yang menolak mencinta padahal ia sudah di depan mata?
Ada
Walau ia tidak akan membencimu yang telah menyergapnya tanpa aba-aba
Tak pernah menghiraukan bukan berarti tak berhasil menguasai
Tak pernah menanggapi tak selalu berarti enggan dicintai
Terkadang ia hanya perlu lebih lama dirayu, kau tahu?
Namun, tidak semua pagi datang dengan sinar mentari
Bayang-bayang langit malam tetap menghantui
Jinggamu bukanlah yang dinanti
Pelangimu bukanlah yang didamba
Ia memilih sendiri, berdamai dengan hati, walau akan membohongi
Ia tak peduli cemoohan, ia tak peduli munafiknya
Ia hanya tau, ia tidak bisa
Maafkanlah
Maafkan dirinya, karena ia menolak jatuh cinta

Jumat, 09 Mei 2014

Tidak Tepat Waktu

Mengapa cinta datang tidak selalu tepat waktu?
Mengapa ia lebih dulu ada untukmu daripada aku?
Mengapa dunia terasa tidak adil bagiku?
Aku tidak pernah meminta untuk mencintaimu
Ia hadir dengan begitu saja
Aku tidak pernah berharap kau akan melakukan hal yang sama
Tapi kau wujudkan itu seolah kau bisa
Jangan gila, ia temanku, tak mungkin ku khianatinya
Dengarkan aku, lupakanlah semua yang ada
Semua yang semestinya tak pernah ada
Antara kau dan aku
Karena menjadi yang kedua tidaklah sesederhana bulan menunggu pagi, kau tahu?

Selasa, 06 Mei 2014

Aku Kalah

Aku memang bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang pria 20 tahun yang selalu berlindung di balik tameng palsu. Yang selalu berlindung di balik jubah keangkuhan. Aku memang egois. Aku angkuh. Aku tak pernah mau berdamai dengan apapun yang terjadi. Katakan saja, aku bodoh. Iya, mungkin aku bodoh.
Aku bukan orang rendah diri. Aku akan sekuat tenagaku untuk tidak terlihat menyedihkan. Aku tidak ingin orang lain tahu kelemahanku. Aku tidak akan membiarkan orang-orang mengetahui isi hatiku sebenarnya. Ah, memangnya orang sepertiku masih memiliki hati? Mungkin tak akan ada yang percaya itu.
Aku tidak pernah mau kalah. Aku tidak pernah ingin kalah. Tidak akan. Aku tidak akan kalah. Oleh siapapun. Untuk alasan apapun. Aku harus selalu jadi pemenangnya.
Apa kau bilang? Hidup ini takdir yang menentukan, hah? Tidak. Tidak ada dalam kamusku. Bagiku, hidup ini ada di tanganku. Aku yang harus mengaturnya. Aku yang memegang kendali. Dan aku tidak akan kalah oleh keadaaan apapun. Oleh takdir apalah itu namanya. Bahkan, oleh apa yang hatiku sendiri katakan.
Aku ini seorang anak adam. Aku dilahirkan untuk menjadi tangguh. Dan untuk alasan itu aku tak pernah ingin kalah dari makhluk bernama hawa. Merekalah yang harus tunduk padaku. Merekalah yang harus memujaku. Mereka yang harus patuh padaku. Termasuk untuk urusan perasaan, aku tidak akan luluh pada mereka.
Seperti yang telah berlangsung selama ini. Aku selalu dipuja-puja kaum hawa. Mereka yang melihatku, dapat merasakan pesonaku. Dan tak akan mampu mengalahkannya. Mereka yang berjumpa denganku, pasti akan terhipnotis oleh kuatnya auraku. Dan tak akan ada yang mampu mengecohnya. Aku memang terlahhir sebagai primadona. Sebagai seorang pujangga yang dicintai angin dan langit.
Aku tidak dilahirkan untuk memuja, aku hanya pantas mereka puja. Aku tidak diciptakan untuk tunduk di bawah kaki seorang lemah lembut seperti mereka. Aku ada untuk mereka gantungkan segenap hatinya padaku.
Mengapa? Ada yang salah? Rasanya aku tidak salah. Dari awal pun sudah kukatakan bukan, aku memang angkuh, hah? Dari awal pun sudah kuceritakan, betapa aku benci menjadi lemah dan akan sekuat tenaga menutupi apapun yang melemahkanku?
Aku angkuh.
Setidaknya, sebelum aku jatuh.
Tidak pernah aku bayangkan, dunia akan mengujiku seperti ini. Apaan-apaan ini semua? Bahkan terlintas di pikiranku saja pun tidak pernah sama sekali.
Aku ini kokoh. Mana mungkin dijatuhkan oleh sebuah perasaan merah jambu yang selama ini selalu aku jadikan permainan?
Aku sudah memilikinya selama 3 tahun terakhir ini. Menjalani hari-hari bersamanya. Ya, setidaknya, dengan perbandingan 1 banding 3. 1 bulan kami akan amat mesra. 3 bulan akan kuacuhkan dia hingga ia tak mengerti apa salahnya.
Tidak, dia tidak pernah salah akan apapun. Hanya saja, bagiku, memasukkan ke dalam permainan cintaku ini amat menyenangkan. Jahat? Sudah kukatakan sejak awal, bukan?
Anehnya, dia tidak seperti kaum hawa yang sebelumnya kujumpai. Yang lalu-lalu, mereka hanya akan mampu bertahan denganku setidaknya 4 bulan saja. Tapi, apa yang dia lakukan? Ia bahkan sanggup menemaniku, menjalani permainanku yang amat menyiksanya hingga hitungan tahun. Sudah gilakah ia?
Tidak. Katanya, ia amat mencintaiku. Itu yang ia katakan padaku setiap malam, di setiap pesan singkat yang ia kirimkan pada ponselku. Yang bahkan tak pernah aku tanggapi.
Tapi ia tak pernah berhenti mengirimiku pesan sederhana itu setiap malam.
Dulu, aku tidak pernah menganggap itu semua berarti. Apalah artinya pesan seperti itu? Hanya sekalimat cengeng, bukan?
Sayangnya, waktuku telah habis. Dunia mungkin sudah muak dengan keangkuhanku. Mungkin semesta marah akan keegoisanku. Kini, aku menuai buahnya.
Ia pergi.
Pergi karena tak cukup sanggup lagi untuk bertahan di sampingku.
Menahan luka hati untuk pria angkuh, penuh ego sepertiku.
Aku kira dia akan kembali, seperti yang selalu ia lakukan. Kembali pada pelukanku. Tapi kini? Ia benar-benar pergi. Dan tak sudi kembali.
Dan. Aku kacau. Ia benar-benar pergi. Tak ada lagi yang menyanjungku tiap malam. Tak ada lagi yang akan menemaniku. Tak ada lagi yang akan dengan sabarnya memenuhi semua keinginan hatiku. Bukan. Aku tidak perduli lagi itu semua. Aku hanya ingin dia di sampingku. Seperti biasa. Ketika dia pergi, lebih dari separuh hati ini pergi bersamanya. Tanpa kusadari, melihatnya yang selalu setia di sampingku, memiliki ia yang selalu senantiasa tersenyum kala aku di bawah ego, aku telah mencintainya. Hal yang tak pernah terjadi dalam hidupku.
Aku kalah pada perasaan bernama cinta itu. Ia tumbuh bahkan meluluhkan semua rantai-rantai yang melingkar tanda keangkuhan hati dan jiwa ini. Ia merayap jauh ke dalam relung yang tak pernah aku singgahi. Bagian terdalam yang selama ini tak tersentuh. Bagian dimana cinta dapat tumbuh dengan suburnya.
Sekarang, apalah aku ini?
Aku lahir menjadi nol besar. Ketika aku baru saja menyadari, aku tidaklah sekuat yang kubayangkan. Ketika aku terhenyak, aku telah melebur menjadi serpihan hanya karena sepucuk merah jambu itu.
Aku kalah. Aku benar-benar kalah. Oleh hal yang tidak pernah kubayangkan akan mengalahkanku. Cinta.

"Karena orang yang paling sering memaafkanmu adalah orang yang paling mencintaimu."